LEMSAKTI adalah lembaga yang dibentuk/disahkan oleh Pemerintah untuk mengelola sumbangan keagamaan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam perhitungan pajak penghasilan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Pasal 9 ayat (1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:

g. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan ... , kecuali... sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;

Kamis, 03 Mei 2012

BELAJAR DARI YANG BERHASIL


Belajar dari Pendahulu: Program Terobosan LEMSAKTI 2012-2013

Berbagai terobosan yang dilakukan lembaga-lembaga sosial yang telah ada dijadikan rujukan oleh LEMSAKTI, karena terobosan yang telah dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut bisa dibilang sebagai langkah yang reformatif dalam pengelolaan dana umat. Sebelumnya, proses pengumpulan dana umat yang dilakukan oleh berbagai lembaga sosial lebih bersifat konvensional dan biasanya sangat pasif. Mereka hanya menunggu masyarakat yang datang untuk menyalurkan dananya. Lembaga semacam ini, khususnya yang berbasis agama Islam biasanya mengalami booming pemasukan pada saat Ramadhan.

Berbeda dengan lembaga sosial lainnya, lembaga inovatif dan kreatif itu tidak hanya menggunakan strategi konvensional dalam menjaring dana umat, tapi juga mengalami terobosan yang baru dan bersifat inovatif. Misalnya Program Zakat On-line, galang dana lewat e-mail dan SMS, Pengemasan daging Qurban dalam kornet, dan sebagainya. Mereka secara aktif mencari dan mendatangi orang-orang berpotensi untuk berderma, melakukan kampanye di berbagai media dan mengenalkan lembaga dan program-programnya dengan cara presentasi atau membagikan brosur ke berbagai instansi dan perusahaan.

Berbagai seminar, kegiatan amal dan kegiatan lainnya gencar dilakukan dalam rangka positioning dan menumbuhkan brand image kepada masyarakat.

Kesan profesionalisme juga nampak dengan adanya divisi khusus penggalang dana atau divisi marketing yang menjadi semacam ”mesin pencari” dana bagi lembaga kreatif
tersebut. Lewat divisi inilah berbagai program yang berkaitan dengan penggalangan dana digarap, seperti merancang strategi fundraising, melakukan kampanye, mencari donatur baru, menyusun data base, dan kegiatan lainnya. Didukung oleh tenaga-tenaga muda yang profesional dan struktur lembaga yang ramping dan efisien, mereka tampil lebih progresif dan berusaha untuk mempelopori berbagai terobosan baru di bidang pengelolaan ZIS.

YDSF misalnya, memiliki departemen marketing yang membawahi jupen (juru penerang/semacam humas) dan jungut (juru pungut) yang terjun langsung ke lapangan untuk mencari donatur baru dan memungut dananya secara teratur.

Sementara DD mengembangkan pola marketing murni dalam pencarian donatur lewat direktorat penghimpunan. Direktorat ini membawahi divisi corporate marketing yang menggalang dana dari perusahaan dan divisi retail marketing yang menangani donor individual. DD juga punya beberapa sales marketing yang terjun keberbagai tempat untuk mencari donatur.

Dalam menjalankan aktifitasnya, lembaga penerobos itu benar-benar menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat, khususnya para donatur. Karena itulah, mereka selalu menjalankan prinsip transparasi dan keterbukaan dalam mengelola dana yang diterima dari masyarakat. Di kalangan lembaga pengelola dana umat, para penerobos mempelopori proses transparasi ini dengan melibatkan akuntan publik independen pada proses audit laporan keuangannya. Mereka juga secara rutin melaporkan pemasukan dan pemanfaatan kepada para donatur, secara langsung maupun lewat publikasi media. Untuk menjaga komunikasi dan loyalitas donaturnya, lembaga penerobos tersebut memberikan fasilitas khusus kepada mereka.

Dompet Dhuafa, misalnya, memberikan kartu anggota yang berfungsi sebagai kartu diskon di beberapa perusahaan yang menjadi mitra mereka. Kartu ini juga berfungsi sebagai kartu ATM yang memudahkan donatur dalam menyalurkan sumbangannya. Mereka juga berupaya menjaga menjaga hubungan baik dengan para donatur dengan cara mengirimkan souvenir, kartu lebaran, atau kartu ulang tahun, dan majalah gratis pada para donatur. Selain itu, beberapa lembaga juga memberikan pelayanan jemputan atau pengambilan bagi donatur yang ingin dananya diambil di rumahnya. Dengan begitu mereka merasa lebih dihargai dan menjadi donatur yang loyal.

Dengan strategi itulah lembaga penerobos tersebut berhasil meraih kepercayaan masyarakat dan menggalang dana dalam jumlah besar. Dana yang berhasil digalang berkisar antara 200 juta sampai 250 juta perbulan. Sementara jumlah donaturnya ada yang mencapai 81.000 orang. Dengan dukungan dana umat inilah mereka bisa sustainable dalam mendanai program maupun lembaganya.

Keberhasilan tersebut tentu membanggakan mengingat lembaga-lembaga sosial lainnya masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan dana lokal dan masih bergantung pada sumbangan dari lembaga donor asing. Bagaimana kelima lembaga itu bisa meraih dan mempertahankan keberhasilan tersebut. Kuncinya terletak pada kepercayaan dan profesionalisme. Para donor membutuhkan kepercayaan terhadap lembaga yang akan menyalurkan dananya dan lembaga itu ternyata layak dipercaya dengan beberapa sebab:
ü  kejelasan program,
ü  transparansi laporan keuangan, dan
ü  profesionalisme dalam mengelola lembaga dan menjalankan program-programnya.

Dengan begitu mereka merasakan dana yang diberikannya tepat sasaran, ibadahnya bermanfaat ganda. Kalau lembaga sosial lainnya bisa meneladani keberhasilan mereka, bisa dibayangkan berapa miliar lagi dana umat yang bisa digalang

*Tulisan ini diambil dari buku “Menjadi Bangsa Pemurah, Wacana dan Praktek
Kedermawanan Sosial di Indonesia” Penulis Zaim Saidi & Hamid Abidin,PIRAC, diedit sesuai keperluan LEMSAKTI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar