LEMSAKTI adalah lembaga yang dibentuk/disahkan oleh Pemerintah untuk mengelola sumbangan keagamaan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam perhitungan pajak penghasilan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Pasal 9 ayat (1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:

g. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan ... , kecuali... sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;

Senin, 21 Oktober 2019

BAGAIMANA GEREJA DAPAT MENGHASILKAN BANYAK SUMBER PENDAPATAN


BAGAIMANA GEREJA DAPAT MENGHASILKAN BANYAK SUMBER PENDAPATAN

Persepuluhan dan persembahan tidak akan lagi cukup untuk menopang gereja yang sehat. Jemaat mencari alternatif seperti menciptakan bisnis nirlaba untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan.

Saat ini, sangat sedikit, kurang dari 5 persen gereja berpikir tentang masa depan, yaitu gangguan ekonomi yang akan datang. Salah satu masalah sosiologis yang dihadapi gereja-gereja yang akan mengarah pada penurunan persepuluhan dan persembahan, adalah populasi yang berubah dengan cepat.

Menjelang 2030-an, populasi akan menurun di Negara-negara maju karena lebih sedikit bayi yang dilahirkan. Dengan populasi yang menua, banyak pengunjung gereja yang lebih tua hari ini akan menua dari angkatan kerja. Mereka memiliki lebih sedikit uang untuk diberikan kepada gereja-gereja mereka. Sekitar 75 persen dari kekayaan dalam kekristenan saat ini dipegang oleh orang-orang yang berusia 65 tahun atau lebih. Penyebabnya sebagian besar gereja dibangun di atas model transaksional. Idenya adalah untuk mendapatkan lebih banyak puntung di kursi. Karena lebih banyak puntung di kursi, lebih banyak uang di piring. Hari-hari seperti itu segera menghilang.

Generasi Millenial dan Gen X dan mereka yang datang setelahnya tidak memikirkan uang.  Tidak memberikan uang seperti boomer, orang tua lakukan. Gen M dan X lebih rasional. Mengapa memberikan 10% penghasilan + 4x seminggu + 2x +++ ke gereja hanya untuk datang seminggu sekali mendengar dan menyaksikan acara selama 1,5 sd 2 jam? Bukankah khotbah dan pengajaran Alkitab yang lebih hebat tersedia di Media Sosial dengan biaya gratis? Banyak acara keagamaan bisa diikuti dari tempat tidur, bahkan tidak perlu report membersihkan dan make up diri. Semuanya dapat diperoleh dengan gratis. Tidak perlu buru-buru hingga tidak kebagian tempat parkir. Bukankah gereja online sudah tersedia setiap saat 24/7? Bukankah pelayanan pernikahan, penguburan, doa, pelayatan, konseling dan lain-lain yang selama ini disediakan oleh gereja sekarang dapat dipesan dengan cepat melalui aplikasi online? Untuk apa datang ke gedung gereja? Saya tidak mau dibodohi oleh perasaan saya dan iman yang tidak pernah terbukti seperti yang diajarkan gereja selama ini. Hai gereja, sadarlah, dan bersiaplah dengan gangguan zaman.

Masalah lain adalah munculnya kecerdasan buatan yang mengambil pekerjaan dari orang-orang. Artificial Intelligence (AI) , kecerdasan buatan, pada tahun 2030, akan mengambil 12 hingga 22 persen pekerjaan di dunia dalam 12 tahun ke depan. Itu statistik Universitas Oxford.

Contoh pendeta dari sebuah gereja di Baltimore, Maryland, kehilangan $100,000 semalam ketika perusahaan yang berbasis di Baltimore, Under Armour, memecat 400 orang. Karena itu, gaji pendeta dan anggaran gereja berkurang dan sejumlah program gereja dipotong. Bukannya 400 orang itu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan atau sumber penghasilan lain, tetapi masalahnya adalah seberapa cepat itu terjadi.

Secara eksponensial lebih banyak keluarga di Negara Maju saat ini bergantung pada dua atau lebih aliran pendapatan daripada beberapa dekade lalu. Gereja harus mencari cara untuk menghasilkan berbagai sumber pendapatan. Gereja Negara Maju di abad ke-20 hidup seolah-olah dari satu gaji - persepuluhan dan persembahan – untuk membiayai semuanya. Kita harus mengganggu cara kita berpikir tentang apa yang kita branding.

Di Mosaic Church, mereka memiliki anggaran tahunan sekitar $1,2 juta. Hanya 70 persen dari anggaran itu berasal dari persepuluhan dan persembahan sedangkan sisanya dihasilkan melalui "ekonomi pintar." Gereja-gereja "mengganggu" harus berdiri dengan tiga kaki: keadilan spiritual, keuangan dan sosial. Namun, banyak gereja saat ini hanya berdiri di atas kaki spiritual. Sayangnya spiritualnyapun tidak berdaya, kebanyakan omong kosong. Orang yang setiap minggu diberi “omongan (baca: khotbah)” hasilnya sama saja: dahulu (anak), sekarang (dewasa), dan selamanya (almarhum). Tidak ada bedanya orang Kristen dengan penyembah berhala. Hanya orang bodoh yang mau memberi kepada gereja seperti itu.

Gereja perlu bekerja untuk mengakhiri segregasi di gereja dan menyelesaikan masalah keadilan yang berdampak pada komunitas lokal mereka sendiri. Selain itu, gereja perlu menjadi inovatif dalam hal menghasilkan pendapatan. Walaupun gereja Anda kaya, tetapi anggota jemaat Anda mungkin banyak yang perlu kemapanan dan kematangan sumber penghasilan. Mereka butuh dukungan dari anggota lain, tetapi tidak memiliki akses, meminta bantuan gereja mereka segan. Dalam hal ini gereja yang harus proaktif.

Kaki kedua adalah bagaimana mengintegrasikan. Kita perlu mengintegrasikan saksi yang mengganggu dalam komunitas lokal kita untuk memajukan keadilan sosial, belas kasih dan pemberdayaan masyarakat dengan menciptakan satu payung nirlaba. Ini juga berdarah (mengambil sumber daya) ke ekonomi dan mengapa Anda melakukan ini.

Mulai organisasi nirlaba yang terpisah. Pikirkan ini sebagai dua saudari yang tinggal di rumah yang sama yang berbagi sumber daya, membagi biaya, saling silang. Anda memindahkan kerja belas kasih dan keadilan Anda dari bawah anggaran gereja ke dalam anggaran organisasi nirlaba. Anda tidak dapat mengukur jika itu di bawah anggaran gereja. Ketika pekerjaan belas kasih dan keadilan Anda berada di bawah sisi keadilan sosial Anda, gereja-gereja lain akan mengirimi Anda uang. Apakah Anda tahu bahwa Gereja tidak menulis cek ke gereja lain. Tetapi jika Anda mengatakan hei, "Saya punya program distribusi makanan yang merupakan bagian dari Anggur dan Kawasan Kumuh Perkotaan," mereka akan mengirimi Anda uang mereka. Mereka akan mengirimi Anda orang-orang sebagai sukarelawan. Ini juga memenuhi syarat untuk hibah lokal, Pemerintah Kota/Provinsi dan Pusat. Jadi Anda bisa mendorong wakil Anda di DPR/D untuk mengupayakan anggaran itu menjadi nyata setiap tahun. Mengapa Anda membiarkan uang jemaat yang dibayar melalui berbagai pajak masuk ke kas Negara kemudian mengucur keluar melalui anggaran ke sektor lain yang tidak mendukung tugas pelayanan Gereja? Mengapa gereja begitu ‘dungu’ (meminjam istilah Rocky Gerung), sehingga mencari aman di dalam gedung gereja? Padahal ada Negara yang bertanggung jawab untuk itu. Negara perlu diberdayakan.

Sebagai contoh: beberapa kali terjadi bencana alam (banjir, gempa, gunung meletus, tsunami, dll) yang memporakporandakan beberapa wilayah di Indonesia (misalnya). Manakah yang gereja pilih:
1.      Mengumpulkan uang dari jemaat kemudian menyerahkannya ke korban langsung (ini tidak mungkin karena pasti ada pihak tertentu di sana yang menerima, apakah korlap, dll).
2.      Berkoordinasi dengan semua gereja dan mendorong pemerintah mengambil tindakan nyata. Terus melanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat, menilai kondisi rohani mereka, dan membuat pemberdayaan kehidupan (rohani) sampai mereka menjadi sumber pemberdayaan berikutnya.

Jelas gereja memilih nomor 1 dan hasilnya hanya berupa laporan telah diserahkan sejumlah bantuan sebesar Rp…. Ini umumnya menjadi kesia-siaan dan merusak mental masyarakat. Gereja berpikir dia sudah memberkati, tetapi sebenarnya menanam dosa. Mengapa? Penerima itu biasanya korup dan menimbulkan sikap seolah gereja berkewajiban membantu dengan menempatkan dirinya sebagai korban yang patut dibantu. Seharusnya mereka dididik bila perlu “dipaksa” untuk cepat berdaya: mandiri dengan modal dasar bantuan dari gereja. Memang tidak mudah. Tapi pasti ada orang anggota jemaat yang siap untuk itu. Yang penting hasilnya akan manis dan berbuah kembali yang manis.

Contoh: ketika Gunung Sinabung meletus (erupsi) di Tanah Karo, Sumatera Utara, awalnya berduyun-duyun orang memberikan bantuan khususnya sembako dan tenda. Untuk keadaan darurat itu tindakan yang terpuji, saling membantu. Tetapi, ternyata erupsi berlangsung bertahun-tahun. Tentu saja bantuan dan sumbangan berkurang, bahkan berhenti di titik tertentu. Sementara korban harus meninggalkan kampung halamannya karena sudah porak poranda dan berbahaya untuk dihuni kembali. Mereka ditampung di hunian sementara (berupa tenda), kemudian meningkat beberapa yang beruntung ke hunian tetap. Ada yang pergi pindah ke daerah lain karena memiliki rumah lain atau tersedia di sanak kaluarga.  Bahkan ada yang pergi ke kota dan melakukan apa saja (termasuk menjajakan diri di Café) supaya dapat bertahan hidup. Salah satu gereja yang besar di Jakarta berinisiatif mengumpulkan dana untuk memberdayakan masyarakat yang ditampung di hunian sementara. Dana gereja digunakan untuk menyewa lahan di tempat lain, kemudian dibeli sarana produksi, untuk kemudian diserahkan ke warga korban bencana. Selama masa budidaya dan belum panen, mereka dibekali dana untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hasilnya?

Ternyata setelah LEMSAKTI dan MUKI selidiki, tidak semua bantuan yang diserahkan itu mengalir sesuai tujuan awal. Bahkan Gereja dengan modal belas kasihan dan membantu sesama, tidak memberikan hasil apa-apa dengan program pemberdayaan tersebut. Semua dana jemaat untuk pemberdayaan ini jadi sia-sia, hangus begitu saja. Alasannya: Tim atau Panitia dan mitra tidak memiliki cukup informasi sehingga tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi. Ternyata seelah lahan diolah dan ditanami, ketika menunggu hasil yang diharapkan, lahan tersebut disiram oleh abu vulkanik yang panas sehingga menghanguskan semua tanaman. Tim Gereja terlalu semangat sehingga terburu-buru melakukan kegiatan tanpa konsultasi yang cukup dengan pihak berwenangan seperti BMKG dan BNPB serta pihak ahli dan berpengalaman lainnya.. Kombinasi dua hal: mental korup pengelola lapangan di kemah pengungsian dan faktor alam yang tidak diperhitungkan, gereja ini memutuskan untuk berhenti dan tidak lagi memberikan bantuan lanjutan. Tinggallah pengungsi yang telah menjadi korban bencana alam melanjutkan penderitaan mereka karena  menjadi korban mental korup dan korban kecerobohan manusia yang berusah membantu tetapi kurang berhikmat. Dana, tenaga, dan waktu berakhir dengan kekecewaan di semua pihak … semuanya kesia-siaan, kata Pengkhotbah.

Gereja akan lebih berdaya guna bila membuat gerakan yang mendorong Pemerintah tanggap cepat dan tuntas. Karena itu tugas mereka. Untuk apa orang-orang di Pemerintah itu dibayar kalau tidak bekerja? Gereja membantu pemerintah dengan aturan perundangan yang ada supaya berfungsi dengan efektif dan nyata berdaya guna. Jangan terhanyut kondisi darurat yang melestarikan tindakan darurat. Itu bukan hal baru. Itu sudah sering dan sudah lama terjadi dan akan terjadi lagi. Karena sudah berulang namanya kondisi normal, buka darurat lagi. Karena normal gereja sudah sewajarnya mempersiapkan diri sehingga tidak ada darurat lagi. Jangan terlalu egois dengan gereja sendiri, ajak gereja lain bersama-sama supaya dampaknya lebih signifikan. Bermitra (partnership) denga pihak luas dalam bentuk kehati-hatian akan memberikan dampak positif yang lebih signifikan dibandingkan bekerja sendiri. Memang butuh waktu. Makanya perlu persiapan dan antisipasi, jangan dadakan.

Kasus ini dapat dikembangkan ke tingkat lebih luas: menjaga lingkungan dari kerusakan akibat ulah manusia, menjaga perilaku warga taat aturan, mendorong warga berperilaku nilai-nilai Pancasila, menjaga pemerintah tegas dan taat juga menegakkan aturan. Membuat program mengurangi demonstrasi yang berujung pengrusakan menjadi pemuda dan mahasiswa kreatif di berbagai bidang, menjadi kebutuhan mendesak di kota-kota besar Indonesia. Gereja berhentilah diam saja. Berdoa saja tidak cukup, jangan serahkan urusan itu kepada Tuhan. Tuhan sudah menyerahkan urusan mengusahakan dan memelihara bumi ini kepada manusia sejak zaman Adam. Penugasan itu masih berlaku sampai selama-lamanya, sampai bumi baru turun dari surga. Jangan terlalu berharap Anda agar segera diangkat ke surga, itu masih lama. Syarat dan ketentuan masih banyak belum terpenuhi. Yang terpenting kita urus bumi ini sebagai bagian dari Kerajaan Surga, karena manusia dan bumi diciptakan untuk manusia.

Ini adalah “langkah cerdas secara ekonomi” dan memungkinkan gereja menunjukkan kepada dunia bahwa gereja tertarik dengan apa yang terjadi di komunitas tempat mereka tinggal. Gereja perlu memfokuskan dan memanfaatkan semua aset pada orang-orang yang layak untuk itu. Contohnya mendorong Kementerian/Dinas Sosial menjalankan program distribusi makanan melayani  orang setiap tahun dalam program mengubah status sosial mereka. Kecuali program lain seperti untuk anak-anak yang berisiko. Ini sifatnya khusus. Program nirlaba lain untuk bekerja dengan anak-anak yang bertambah tua dari sistem asuh. Mengapa provokator lebih berhasil memobilisasi anak sekolah dan mahasiswa dibandingkan dengan gereja? Hai gereja tunjukkan bahwa kamu memiliki kekuatan dan kekuasaan dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Dengan memindahkannya keluar dari bawah anggaran gereja, gereja berpotensi menerima lebih banyak dalam bentuk hibah setiap tahun. Jangan seperti aras gereja yang ada di DKI Jakarta, hanya diam menerima manis seperti yang sudah-sudah dan menyingkirkan atau menghalangi aktivis Kristen atau gereja lain untuk mendapatkan hibah (Ini kasus di awal 2010an). Yang benar seyogiyanya aras itu mengundang kerja sama semua orang Kriten dan gereja untuk semua berjuang bersama mendapatkan hibah yang lebih besar dan meningkat setiap tahun dengan menyuarakan melalui wakilnya di DPRD. Berhentilah sombong dan menganggap lembaga sendiri yang paling berhak. Semua orang punya hak yang sama, tergantung perjuangannya. Galanglah kerja sama dan tunjukkan kemampuan kita secara cerdas. Ini ekonomi cerdas karena Anda tidak akan mendapatkan hibah itu jika itu di bawah anggaran gereja Anda.  Ingat "keadilan dan ekonomi" adalah "penginjilan abad ke-21."

Ini tidak lagi membawa Billy Graham ke kotamu. Pria yang luar biasa, luar biasa, kita semua akan setuju. KKR tidak berhasil menambah petobat baru apalagi mendewasakan rohani. Mereka hanya ingin sembuh, merasa nyaman, setelah itu mereka lupa dan kembali seperti semula.  Tapi itu abad ke-20. ... Itu bukanlah bagaimana Anda memimpin orang kepada Kristus di abad ke-21. Anda tahu bagaimana Anda melakukannya? Keadilan dan ekonomi. Ekonomi itu urusan rumah tangga (oikumene). Ini adalah masa depan Gereja Negara Maju. Bukankah Indonesia sudah diambang pintu Negara maju?

Yesus tidak mengatakan biarkan aku mendengar kata-katamu. Dia berkata, biarkan mereka melihat perbuatan baikmu. Jika ada waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk melihat karya-karya bagus, sekaranglah saatnya. Bawalah Yesus bersamamu ke istana Negara bertemu Presiden dan semua Penyelenggara Negara, ke bioskop, ke mal, ke gedung pertunjukan, ke stadion, dan kemana saja yang penting keluar dari gedung gereja.

Agar sebuah gereja menjadi "mengganggu" dalam arti ekonomi, itu harus melakukan hal-hal seperti:
1.      repurposing properti,
2.      menciptakan pekerjaan,
3.      menghasilkan pendapatan pajak untuk masyarakat dan
4.      menempatkan talenta anggota gereja untuk digunakan dengan cara yang tepat untuk melanjutkan misi gereja.

Ada sebuah pertanyaan atau pernyataan: Bagaimana Anda sebagai seorang pendeta atau Majelis Jemaat, bagaimana gereja memanfaatkan asetnya? Aset itu adalah uang, orang dan bangunan untuk memberkati masyarakat. Bagaimana kita memanfaatkan aset kita untuk memberkati dan memajukan Kerajaan, memajukan kebaikan bersama, dan pada saat yang sama menghasilkan pendapatan berkelanjutan untuk mengisi kas gereja?

Memanfaatkan Orang, Uang, Dan Bangunan
Gereja perlu memaksimalkan properti yang mereka miliki. Contoh, Gereja Mosaic (sekarang terletak di bekas toko K-Mart) menghasilkan pendapatan dengan menyewakan sekitar setengah dari bangunan ke klub kebugaran sejak 2013. Klub kebugaran membayar sekitar $8.000 per bulan untuk 50.000 kaki persegi. Alasan di balik penyewaan bagian bangunan adalah untuk membantu mengimbangi $7.400 per bulan yang dibayar gereja atas hipoteknya. Karena sewa dengan pusat kebugaran, 20 pekerjaan dan sekitar $26.000 pendapatan pajak diciptakan untuk masyarakat setempat.

Cara lain untuk menghasilkan pendapatan adalah gereja memonetisasi layanan yang ada. Sebagian besar gereja membagikan kopi gratis pada hari Minggu untuk pengunjung gereja. Untuk Gereja Mosaic, kopi harganya sekitar $3.000 per tahun. Meskipun beberapa gereja mengeluarkan kendi sumbangan, mereka tidak pernah dibuat sepenuhnya utuh dengan kopi yang mereka layani. Artinya uang yang keluar lebih banyak dibandingkan persembahan masuk untuk kopi.

Untuk mengatasi masalah ini, Mosaic mulai menjual biskuit sosis yang dibungkus dengan aluminium foil yang dibeli di toko grosir di area kafenya. Upaya kewirausahaan tidak hanya mengimbangi biaya kopi tetapi menghasilkan pendapatan tambahan yang gereja berikan untuk beasiswa perkemahan musim panas kaum muda.

Mempertimbangkan sebagian besar gereja lebih kecil dari rata-rata toko K-Mart. Gereja-gereja kecil dapat melakukan hal-hal seperti menyewakan kantor atau ruang kelas yang tidak digunakan kepada organisasi di daerah mereka yang mencari pilihan sewa yang lebih murah.

Gereja-gereja juga dapat menghasilkan pendapatan dengan menyewakan gedung mereka untuk acara-acara seperti pernikahan atau ke gereja lain di daerah itu untuk beribadah pada Minggu malam.

Beberapa gereja mungkin mengizinkan gereja-gereja lain untuk menggunakan ruang ibadah mereka secara gratis karena mereka percaya itu menjadi bagian dari "pelayanan." Tetapi percayalah akan lebih bijaksana bagi gereja-gereja itu untuk mulai mengenakan biaya. Tetapi jika Anda terus melakukan itu, Anda mungkin tidak akan berada di sini dalam 10 tahun mendatang (bagi yang menyewa gedung atau perkantoran). Jadi isi mereka sesuatu. Anda tidak harus mendapatkan dolar tertinggi, tetapi dapatkan sesuatu. Gereja-gereja yang lebih besar, mungkin memiliki peralatan cetak yang dapat digunakan untuk menghasilkan uang.

Memulai Bisnis Nirlaba
Gereja dan organisasi nirlaba lainnya diizinkan secara hukum untuk memulai perusahaan nirlaba selama entitas nirlaba membayar bagian mereka dalam pajak. Selama laba dari perusahaan kembali untuk mendukung gereja atau organisasi nirlaba yang meluncurkannya.

Memulai entitas nirlaba dapat menjadi hal yang menakutkan bagi para klerus (bagi pendeta keluaran, pendeta kejadian biasanya datang dari kalangan bisnis). Para pendeta tidak perlu sepenuhnya memahami bagaimana mengoperasikan bisnis. Mereka dapat menempatkan tanggung jawab itu kepada orang awam di jemaat mereka dengan pengalaman menjalankan bisnis. Ini juga membuka peluang kerja bagi anggota jemaat.

Beberapa gereja juga membayar layanan kebersihan. Sebaliknya, gereja dapat menciptakan bisnis layanan kebersihan mereka sendiri dengan membayar karyawan. Membersihkan gedung gereja sendiri, juga mengambil kontrak untuk membersihkan bangunan lain di masyarakat. Kirim petugas kebersihan Anda ke komunitas. Mereka mendapat kontrak di tempat lain. Mereka membersihkan gereja Anda secara gratis.

Beberapa orang menghadapi masa keuangan yang sulit Karena hanya "bergantung pada Tuhan" atau "memiliki iman". Hal-hal mungkin berbalik, Allah memanggil gereja dan orang Kristen untuk menjadi pelayan yang baik dari apa yang diberikan kepada mereka. Bukankah Yesus menceritakan kisah seorang tuan, yang memberi satu orang lima talenta, dua ke yang lain, satu ke yang lain. Ketika dia kembali, apa yang Dia katakan? … Ini lima Anda dan saya beri Anda lima lagi. Yang kedua mengatakan ... Ini dua Anda dan saya membuat Anda dua lagi. Apa yang dikatakan tuannya? Pelayan yang baik dan setia. Orang itu [yang 1 talenta] duduk di atas asetnya, dan dia dibuang.

Bedakan antara bisnis sebagai dukungan pelayanan gereja dengan Bait Allah dijadikan sarang penyamun. Jauh bedanya, jangan terburu-buru memvonis, nanti Anda dibuang.

15 Ide Penghasilan untuk Gereja dan Kementerian/Pelayanan dan Organisasi Nirlaba
1.      Penerbitan Buku
2.      Hosting Acara Langsung
3.      Hosting Acara Virtual
4.      Pemasaran Afiliasi
5.      Sponsor Perusahaan
6.      Hibah
7.      Pemasaran terkait-Penyebab sebagai Layanan
8.      Menyewakan Fasilitas atau Aset
9.      Jasa
10.  Produk
11.  Diskon dan Potongan Pajak misalnya kerjasama dengan LEMSAKTI.
12.  Pemberian yang Direncanakan (Janji Iman)
13.  Program Mitra dan Hadiah Utama
14.  Sumbangan Offline dan Online
15.  Perangkat Lunak sebagai Layanan



Kamis, 17 Oktober 2019

MENUJU INDONESIA JAYA


MENUJU INDONESIA JAYA

Meneruskan usulan Pak Octav kepada Presiden Jokowi yang telah disampaikan kepada Presiden Megawati menjelang Pemilu 2004.
Ketika memilih buku-buku untuk dijual melalui toko online https://www.tokopedia.com/chine saya menemukan beberapa buku yang sudah lama saya beli tetapi belum pernah dibaca. Salah satunya berjudul MENUJU INDONESIA JAYA (2005-2030) DAN INDONESIA ADIDAYA (2030-2050), yang ditulis oleh Dr. Petrus Octvianus. Setelah memperhatikan buku ini, tidak jadi saya pajang di toko online, tetapi saya mulai membuka halaman-halamannya. Saya berkesimpulan inti dan pesan-pesan yang disampaikan oleh buku tersebut masih relevan saat ini dan tentunya didukung bermacam publikasi yang muncul setelah penerbitan buku tersebut. Publikasi yang saya maksud tentang peluang dan prospek Indonesia menjadi Negara Adidaya. Tergantung parameter yang digunakan, sebenarnya Indonesia sudah lama termasuk Negara Adidaya, kalau ditinjau dari sudut demografinya. Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia dengan prediksi jumlah penduduk tahun 2050 sebanyak 300juta jiwa lebih (2019: 265,5juta+), setelah peringkat 1, 2, 3 diduduki oleh China 1,3milyar lebih (2019: 1,4milyar+, India 1,6Milyarlebih (2019: 1,3milyar+), dan USA 398Juta lebih (2019: 329Juta+). Sumber https://www.internetworldstats.com/stats8.htm

Pdt. Dr. Petrus Octavianus (Pak Octav) lahir di Rote, NTT, 29 Desember 1928; dan menghadap Bapa di Sorga pada 30 Maret 2014, pukul 23.30 WIB di Rumah Sakit Panti Waluyo (RKZ) Malang. Profesi beliau dimulai di lingkungan pendidikan umum dan beralih ke bidang rohani.

Mantan Ketua DPRD Kota Batu, Mashuri Abdul Rochim, SH.,MM., menyebut Pak Octav seorang tokoh masyarakat, pendeta yang cinta Indonesia. Cinta damai dan cinta merah putih. Dia menyaksikan YPPII dulu kecil, beliau besarkan, bangun, pimpin sampai besar menjadi kebanggaan masyarakat dunia. Pak Octav membangun yatim-piatu bukan hanya Kristen saja, tetapi juga yang Islam disekolahkan beliau.

Menurut Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA (PBNU), Dr. Petrus Octavianus telah menekankan bahwa kebesaran bangsa Indonesia harus dibangun tanpa kecurigaan. Kemajemukan harus diterima sebagai potensi untuk mengembangkan sikap inklusif di tengah-tengah masyarakat. Beliau juga memandang perlu membangun kesadaran di tengah generasi muda tentang perlunya memahami sejarah bangsa ini; yang akan menyadarkan kita bahwa bangsa ini dibangun melalui proses panjang serta kemauan berbangsa yang sangat kuat.  

Pelayanan Pendeta Octavianus dikenal secara luas di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan presiden Republik Indonesia yang keempat, KH Abdurrahman Wahid serta para pejabat lainnya ke kediamannya di Batu tanggal 29 Juni 2000. Octavianus merupakan salah satu pemuka agama yang selama hidupnya mendedikasikan untuk bangsa dan negara. Dia berteman baik dengan tokoh nasional setingkat Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid, mantan Ketua Umum Muhammaddiyah Syamsul Ma'arif, Prabowo Subianto dan tokoh Indonesia lainnya. Pelayanannya sebagai pendeta menjadikannya pergi ke lebih dari 85 negara di lima benua. Dan ketika Amerika Serikat merayakan 200 tahun kemerdekaan, Petrus Octavianus juga mendapat undangan makan oleh Presiden Jimmy Carter.
Di samping mendirikan YPPII dan I-3, beliau juga mendirikan Panti Asuhan Peduli Kasih di kawasan Desa Sumberejo. Sudah sekitar 30.000 anak yang pernah dididik di sini, dan menyebar ke seluruh Indonesia, juga ada yang ke luar negeri. Panti itu dihuni 567 anak, baik Kristen, Muslim, dan lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah korban konflik Ambon dan Poso.
Sebuah pengalaman lain yang patut dicatat adalah bahwa beliau pernah menjadi pembicara di dalam kongres penginjilan International yang diprakarsai oleh Billy Graham (Lausanne Congress) di Lausanne, Switzerland tahun 1974

Usulan Pak Octav Kepada Presiden kala itu, Megawati didasari gagasan Dr. Steven R. Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People.   Covey menyebut 7 dosa pemimpin Negara-negara berkembang, yaitu:
1.      Kaya tanpa kerja dengan modus operandi korupsi kolusi nepotisme (KKN).
2.      Kesenangan tanpa hati nurani.
3.      Pengetahuan tanpa karakter.
4.      Bisnis dan dagang tanpa moral.
5.      Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan.
6.      Agama tanpa pengorbanan.
7.      Politik tanpa prinsip.

Intinya, ke-7 dosa itu harus dihindari. Jadi harus ada budaya alternatif yang dibangun.

Prinsip politik yang dianjurkan oleh Pak Octav adalah: sejahtera bagi seluruh warga Negara dan penduduk, kemajuan ekonomi dan kecerdasan bagi setiap warga Negara dan setiap penduduk, dan menerima dan menghargai kemajemukan sebagai kekayaan bersama.

Menurut Pak Octav, Negara manapun juga yang meletakkan landasan  negaranya pada satu agama maka Negara tersebut tidak akan menjadi Negara modern. Perkataan ini didasari panggilan hati nurani sebagai anak bangsa.

Buku beliau sebenarnya memusatkan pada pembangunan ekonomi. Dalam buku Jilid kedua, beliau memandang posisi Indonesia sebagai Negara Adidaya dengan membangun berdasarkan empat teori:
1.      Ekonomi Indonesia dalam geopolitik
2.      Ekonomi pembangunan kepulauan
3.      Ekonomi kelautan
4.      Ekonomi kemitraan.

Terwujudnya Indonesia menjadi Negara Adidaya menurut Pak Octav, berpulang kepada siapa yang memimpin dan menyelenggarakan Negara ini. Pemimpin Negara harus memiliki komitmen, konsistensi dan kontinuitatas dalam mengimplementasikan usulan ini. Jadi pemimpin Negara Indonesia harus yang dipilih oleh rakyat dan Tuhan, memiliki hati nurani yang bersih, berbelas kasihan, bertindak jelas tegas berdasarkan hukum, keadilan demi kesejahteraan, kemakmuran, dan kejayaan bangsa. Menyangkal diri dan memberikan hidup untuk Tuhan dan sesama manusia.

Semua gagasan dalam bukunya, bersifat garis besar. Ia bertujuan mendorong presiden, para politisi, ekonom dan semua pembuat kebijakan memikirkan kepemimpinan Indonesia yang dipersiapkan menyongsong Indonesia Jaya dan Negara Adidaya.

Rujukan Alkitab Untuk Membangun Praksisme
Habakuk 1: Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik. Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan.

Inti pesan Pak Octav dalam tataran implementasi kami ringkas sebagai berikut:
1.      Ke-7 dosa pemimpin Negara-negara berkembang itu harus dihindari. Jadi harus ada budaya alternatif yang dibangun. Budaya baru perlu dikaji dan dibangun dari sumber ilahi yang terkandung dalam Alkitab dan Kitab Suci lainnya yang saling mendukung. Kalau tidak maka nilai-nilai setan/kegelapan yang akan mengambil alih.
2.      Pembangunan harus berdasarkan sumber daya (keunggulan) yang dimiliki oleh bangsa ini. Untuk mencapai hasil optimal model kemitraan menjadi pilihan utama saat ini. Dalam setiap kelembagaan bisnis, maka rakyat harus diikutsertakan sebagai mitra pemilik, pengelola, pelaksana, dan pengguna yang mendapatkan peran signifikan. Hindari praktek monopoli dan oligopoly yang mengakibatkan kemiskinan terstruktur sistematik dan massif (TSM) yang terbentuk dalam masa pemerintahan Orde Baru.
3.     Kemajemukan harus diterima sebagai potensi untuk mengembangkan sikap inklusif di tengah-tengah masyarakat. Empat pilar Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika  harus terus diajarkan kepada seluruh komponen bangsa. Setiap upaya yang melemahkannya harus ditindak tegas. Semua produk yang membawa pesan kepada publik wajib berisi penghargaan tinggi kepada nilai-nilai empat pilar. Hindari kekacauan dan malapetaka yang merugikan bangsa selama masa pemerintahan reformasi akibat transisi didasari kecurigaan dan mementingkan kelompok sendiri, yang banyak mengatasnamakan superioritas agama menurut kebenaran sendiri dan cenderung memaksakan kehendak. Dampaknya masih sangat kuat hari ini dan potensi kerusakan yang ditimbulkan di masa depan masih sangat besar. Terutama di kalangan ASN, TNI, POLRI dan penyelenggara Negara secara umum harus benar-benar bersih dan jelas.
4.     Membangun kesadaran di tengah generasi muda tentang perlunya memahami sejarah bangsa ini; yang akan menyadarkan kita bahwa bangsa ini dibangun melalui proses panjang serta kemauan berbangsa yang sangat kuat. Semua produk manusia (budaya, budidaya) dalam segala bidang harus dikaitkan dan dapat dilihat kaitannya dengan nilai-nilai bangsa ini yang diturunkan dan dikembangkan dari empat pilar di atas.  Nilai-nilai ini harus menjadi menu utama semua hal yang terkait generasi muda, terutama yang terkait dengan informasi komunikasi setiap saat. Karya-karya kreatif berisi pesan sejarah bangsa wajib dikembangbiakkan, diusahakan dan dipelihara. Perlu alokasi anggaran yang jelas untuk kegiatan ini secara nyata. Media sosal dan jaringan online harus benar-benar diberdayagunakan untuk mendukung empat pilar. Ini suatu keharusan dan wajib hukumnya.


Setelah berjalan selama 15 tahun (2004 sd 2019), usulan itu masih relevan. Tetapi mungkin perlu kita melakukan penyesuaian dengan perkembangan di segala bidang.

Waktu menulis buku itu Pak Octav mungkin belum terpikir tentang revolusi industri 4.0. Kegelisahan hati beliau akan semakin bergejolak bila dikaji dengan aspek negatif dari kombinasi 7 dosa pemimpin yang dilakukan secara canggih yang didukung oleh teknologi komunukiasi informasi (TEKI).  Contohnya hoaks untuk mengerahkan masyarakat yang berakibat korban berbagai sumber daya di berbagai daerah di Indonesia. Fintech dan business berbasis internet lainnya yang rentan menimbulkan kerugian pada pihak publik.

Tetapi sebaliknya, kemajuan ekonomi dan pergeseran kekayaan ke  arah rakyat banyak semakin dipermudah oleh TEKI. Contoh: lahirnya start up e-commerce yang mendorong berjamurnya perusahaan mikro kecil berbasis online dengan biaya murah dan mudah memulai suatu usaha. Dengan gencarnya KPK dapat menyadap dan meng-OTT kan para pemimpin yang korupsi.

Yesaya 60: Bangkitlah dan jadilah terang, hai Yerusalem, sebab terang keselamatanmu sudah datang; Allah menyinari engkau dengan kemuliaan-Nya. Bumi diliputi kegelapan, bangsa-bangsa ditutupi kekelaman; tetapi terang TUHAN terbit di atasmu, cahaya kehadiran-Nya menjadi nyata di atasmu. Bangsa-bangsa datang berduyun-duyun ke terangmu, raja-raja tertarik oleh cahaya yang terbit bagimu. Lihatlah apa yang terjadi di sekelilingmu; rakyat berhimpun untuk pulang kepadamu. Anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, anak-anakmu perempuan digendong. Melihat itu engkau heran dan wajahmu berseri; engkau terharu dan berbesar hati. Harta bangsa-bangsa dibawa kepadamu, kekayaan dari seberang laut melimpahimu.

Roma 13: Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

Kelakuanmu di antara orang yang tidak mengenal Tuhan haruslah sangat baik, sehingga apabila mereka memfitnah kalian sebagai orang jahat, mereka toh harus mengakui perbuatanmu yang baik, sehingga mereka akan memuji Allah pada hari kedatangan-Nya. Demi Tuhan, hendaklah kalian tunduk kepada setiap penguasa manusia: baik kepada Kaisar yang menjadi penguasa yang terutama,maupun kepada gubernur yang ditunjuk oleh Kaisar untuk menghukum orang yang berbuat jahat dan untuk menghormati orang yang berbuat baik. 1 Petrus 2:12-14

Seandainya ada orang mengadukan kalian ke mahkamah, berdamailah dengan dia selama masih ada waktu sebelum sampai di mahkamah. Kalau tidak, orang itu akan menyerahkan kalian kepada hakim, yang akan menyerahkan kalian kepada polisi. Lalu polisi akan memasukkan kalian ke dalam penjara. Dan ingatlah: Pasti kalian tidak akan bisa keluar dari penjara itu, sebelum seluruh dendamu lunas sama sekali." Matius 5:25-26

Kalian akan dibawa ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja karena kalian pengikut-Ku. Dan itulah kesempatan bagimu untuk memberi kesaksian tentang Aku kepada mereka dan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Tetapi kalau kalian dibawa untuk diadili, jangan khawatir mengenai apa yang kalian harus katakan, atau bagaimana kalian harus berbicara. Sebab apa yang kalian harus katakan itu, akan diberitahukan kepadamu pada waktunya. Matius 10:18, 19







Rabu, 16 Oktober 2019

Jual Obat herbal bawang putih, jahe, lemon, cuka apel, madu - DKI Jakarta - HERBAL MAMI | Tokopedia

Jual Obat herbal bawang putih, jahe, lemon, cuka apel, madu - DKI Jakarta - HERBAL MAMI | Tokopedia: Jual Obat herbal bawang putih, jahe, lemon, cuka apel, madu dengan harga Rp 175.000 dari toko online HERBAL MAMI, DKI Jakarta. Cari product Obat Herbal lainnya di Tokopedia. Jual beli online aman dan nyaman hanya di Tokopedia.

Jual Obat herbal bawang putih, jahe, lemon, cuka apel, madu - DKI Jakarta - HERBAL MAMI | Tokopedia

Jual Obat herbal bawang putih, jahe, lemon, cuka apel, madu - DKI Jakarta - HERBAL MAMI | Tokopedia: Jual Obat herbal bawang putih, jahe, lemon, cuka apel, madu dengan harga Rp 175.000 dari toko online HERBAL MAMI, DKI Jakarta. Cari product Obat Herbal lainnya di Tokopedia. Jual beli online aman dan nyaman hanya di Tokopedia.

Jumat, 11 Oktober 2019

KEBERLANJUTAN PEMURIDAN

KEBERLANJUTAN PEMURIDAN

Kolose 1: Kabar dari Allah itu tersebar ke seluruh dunia, dan hidup orang terus diberkati oleh kabar itu, sama seperti hidupmu diberkati sejak saat kalian mendengar tentang rahmat Allah dan benar-benar menghayatinya.

Selama bertahun-tahun terlibat dalam ekspresi misi gereja, saya melihat salah satu masalah terbesar yang dihadapi gerakan ini secara keseluruhan adalah masalah keberlanjutan. Tragisnya, banyak orang yang gagah dan perkasa memulai dengan semua ide yang tepat hanya untuk berakhir kelelahan dan terpinggirkan karena mereka telah menjadi, well. . . tidak berkelanjutan.

Gaya Hidup Dan Harapan Budaya
Bagian dari masalah yang dihadapi banyak murid adalah gaya hidup dan harapan budaya yang terkait dengan kehidupan di pinggiran kota. Bukan masalah kecil dan satu yang harus tercermin di bawah rubrik pemuridan. Bagi kebanyakan orang percaya, gagasan tentang misi pemuridan tampaknya seperti mimpi yang jauh. Mereka bekerja sebagian besar waktu, pulang ke rumah kelelahan, menghabiskan sedikit waktu luang yang mereka miliki dengan keluarga dan anak-anak, dan tampaknya tidak ada punya waktu untuk kegiatan yang lain.

Sekarang saya tidak bermaksud untuk mengurangi kesakralan pekerjaan dan keluarga. Jika pekerjaan itu terlalu menuntut bagi kita untuk melibatkan diri kita menjadi murid-murid otentik di alam selain pekerjaan harus dievaluasi. Pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan yang mendominasi kita yang harus dipertanyakan dan bukan kelangsungan hidup pemuridan kita. Bekerja seperti ini lebih merupakan hal yang memperbudak daripada cara hidup. Kita semua bisa hidup dengan lebih sedikit hasil dengan lebih banyak kebebasan, lebih banyak kemerdekaan.
Yohanes 8: 31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

Bekerjalah empat hari seminggu daripada lima hari, jika Anda bertujuan untuk menemukan lebih banyak ruang bagi Allah dalam hidup Anda, apalagi rindu melayani orang lain. Bina hubungan pribadi dengan Tuhan, nyatakan keinginan Anda untuk memiliki lebih banyak waktu melakukan tugas dari Tuhan daripada hanya bekerja untuk mendapatkan uang. Banyak kehidupan nyata, hubungan, dan makna spiritual dapat ditambahkan dengan menyederhanakan hidup kita untuk terlibat lebih penuh dalam Kehidupan.

Sadarlah sistem ketenagakerjaan kita yang berlaku saat ini di seluruh dunia adalah perbudakan modern yang mengkerdilkan manusia. Manusia hanya dituntut untuk bekerja menghasilkan uang sampai dibuang dengan nama pensiun. Mulailah menghasilkan produk sendiri, secara bertahap. Bukalah usaha mulai dari rumah, pergunakan pemasaran online. Bergabunglah dengan pasar yang sudah ada, yang sudah banyak pemainnya. Kemudian seiring usaha membesar dan penghasilan sudah mendekati, sama, atau lebih besar dari tempat kerja yang terlalu menuntut waktu Anda, Anda sudah mulai memiliki persiapan untuk mengatur penggunaan waktu sendiri: berapa lama untuk menghasilkan uang, berapa lama untuk menghasilkan jiwa atau menyegarkaan jiwa. Di sini kemerdekaan dan kebebasan sudah menjadi milik Anda sepenuhnya.

Aspek lain dari ketidakberlanjutan adalah mentalitas penyendiri yang sejalan dengan individualisme karena efek kemajuan ekonomi dan teknologi. Jelas ada saat-saat di mana seseorang tidak dapat menghindari menjadi seorang penjaga sendirian. Tetapi kita harus belajar melihat ini sebagai pengecualian yang hanya membuktikan aturan. Yesus selalu berniat bahwa kita harus berusaha untuk melakukan misi paling sedikit dua kali (Lukas 10).

Tidak semua dari kita akan terlibat dalam membangun komunitas iman baru. Tidak semua kita harus terlibat dalam pengarahan atau misi kerasulan. Tetapi kita semua harus terlibat dalam kehidupan komunitas dengan satu atau lain cara. Misi di Jalan Yesus harus selalu bertujuan untuk mengembangkan komunitas pengikut Yesus. Bukankah itu yang dilakukan Yesus? Bukankah itu yang dilakukan Paulus? Bukankah itu yang dilakukan Pahlawan iman lainnya?

Dalam hal penanaman gereja multiplikasi (pengganda) yang berkelanjutan yang terkait dengan gerakan orang, saya selalu merasa bahwa kelompok sekitar 30 hingga 120 memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup daripada ukuran kelompok sel yang lebih kecil. Mike Breen, seorang teman saya yang sangat kerasulan, dengan tepat mencatat ini. Ia sebut “komunitas menengah” memiliki ekologi keberlangsungan hidup mereka sendiri. Terutama ketika setiap orang dalam kelompok itu benar-benar saling menjaga dan saling terlibat dalam ibadah, bermain, saling mendukung ekonomi, dan hidup bersama. Dia mengatakan bahwa kita “dirancang untuk keluarga besar.” Kita tidak berkembang dalam versi keluarga yang lebih kecil dan lebih nuklir (inti). Kita dihilangkan dalam pertemuan "suku" yang jauh lebih besar.

Tidak terlalu besar sehingga menjadi sulit untuk digunakan dan mekanis. Tidak terlalu kecil untuk kelihatan tertutup dan tertekan. Itulah triknya. Tetapi kejeniusannya terletak pada fakta bahwa ini adalah gereja yang dapat ditangani oleh orang nonprofessional (bukan tamatan sekolah teologia). Oleh karena itu siapa pun dapat melakukannya. Dan itu adalah dasar keberlanjutan.

Tetapi gerakan yang dapat mengubah dunia harus lebih besar dari komunitas menengah lokal. Saya sangat percaya pada kekuatan jaringan dan jaringan dari jaringan. Jaringan adalah jalinan gerakan dan dibentuk oleh hubungan dan kebersamaan di luar ekspresi gereja atau misi lokal. Melalui jaringan, kita menjadi bagian yang berfungsi dari keseluruhan apa yang Tuhan lakukan di kota. Bagian dari sesuatu yang lebih besar. Itu menjadi bagian dari suatu gerakan.

Jaringan ini harus dicari dan dikembangkan, kalau perlu dibangun dari nol. Bergantung pada di mana seseorang memulai. Sebagai proyek perintis yang baru atau bagian penting dan inovatif dari gereja yang ada, penting untuk mencari koneksi ke gereja, organisasi, dan jaringan yang sudah ada.

Kuncinya adalah menemukan keseimbangan saling ketergantungan dan tidak akan didominasi oleh agenda beberapa organisasi sentralis.

Jaringan ada pada hubungan sinergis, win-win, saling bermanfaat bagi seluruh sistem. Karena itu kenali dan kaitkan dengan mereka yang memahami dan mempraktikkan ini.

Bidang Utama Keberlanjutan Lainnya Adalah Bidang Keuangan
Banyak pembaca blog ini adalah profesional yang berbasis gereja dan sudah terlibat dalam "pekerjaan tetap" apa pun bidang dan sebutannya. Banyak yang bisa diperoleh dengan melihat ide bisnis sebagai misi (BAM, business as mission). BAM jangan mau menerima pendekatan dualisme yang memisahkan yang sekuler dari yang sakral. BAM harus melihat bahwa semua kehidupan dapat, dan memang harus, dibuat sakral dengan melibatkannya dalam nama Yesus. . . termasuk bisnis. (Salah satu ajaran reformasi memandang pekerjaan adalah ibadah. Tetapi ibadah tanpa melaksanakan Amanat Agung dengan melakukan pemuridan adalah kemerosotan atau kehancuran. Sejarah telah membuktikan).

Bisnis adalah wilayah yang paling mungkin melibatkan orang secara pribadi, jelas merupakan cara terbaik untuk terlibat secara misionaris. Lihat saja kegiatan di kafe, restoran, mesin cuci piring, sekolah, pembinaan SDM, pelatihan, kursus, pertokoan, perkantoran, pabrik, perkebunan, peternakan, perikanan, angkutan, teknologi kemunikasi, jasa teknik, perawatan, bengkel, salon, pencucian mobil, laundry, dll.  Tetapi lebih sedikit lagi bisnis yang berorientasi pada orang misalnya, perusahaan teknik memiliki karyawan yang bukan murid Yesus. Secara umum bisnis dibagi jenisnya jasa, perdagangan, pengolahan dan kombinasinya. Bisnis-bisnis ini memberikan peluang bagus bagi kerajaan Allah untuk mengekspresikan diri melalui umat-Nya. Di tangan seorang Kristen misi, bisnis itu bisa menjadi alat yang hebat di kerajaan Allah.

Dalam hal bentuk dukungan, dalam The Shaping of Things to Come Alan Hirsch dkk menyarankan agar dukungan finansial juga bisa datang dengan cara-cara berikut:
ü  Dukungan / sponsor pribadi: bayangkan misalnya enam puluh orang memberikan Rp 10.000,- / minggu untuk mendukung Anda (Rp 10.000,- x 40 x 4 = Rp 2,4jt/bulan). Kebanyakan dari kita (kelas menengah) bisa memberikan/mendapatkan bentuk dukungan itu bersama.
ü  Bekerja paruh waktu: ini adalah cara yang bagus untuk memodelkan apa yang kita minta orang lain lakukan ketika melibatkan orang-orang non-Kristen dan menjaga keterampilan non-gereja kita tetap tinggi. Seperti dilakukan oleh Paulus dengan Priskila dan Akwila, mereka sebagai pembuat tenda.
ü  Dari gereja mapan: jika apa yang Anda lakukan dapat dijadikan sebagai bagian dari misi yang lebih luas dari gereja lokal, (misalnya beberapa gereja lokal) maka tidak terlalu banyak meminta (dan mengharapkan) alokasi anggaran dari satu gereja, maka tidak berat bagi gereja-gereja tersebut memberikan dukungan keuangan.
ü  Kewirausahaan sosial dan BAM seperti dijelaskan di atas.
ü  Campuran semua hal di atas.

Contohnya
LEMSAKTI sendiri, para penyumbang biasanya hanya memberikan biaya administrasi karena memilih metode dedikasi dalam menyumbang. Penghasilan ini hanya ada antara Januari sd Maret setiap tahun. Selebihnya LEMSAKTI didukung oleh keluarga yang bekerja, menjual produk seperti herbal, bahan herbal, pakaian dan buku bekas, produk kosmetik, honor sebagai pembicara, persembahan kasih dalam berkhotbah dan membagi Firman Tuhan, dll. Dengan demikian LEMSAKTI dapat berlanjut pelayanannya dan fokus melayani masyarakat. Sejak persiapan 2010, resmi legalitas 2011 hingga saat ini: sudah 10 tahun. LEMSAKTI melayani melalui 2 situs: www.lemsakti.net dan www.kerajaanbiblikal.com , 1 channel video youtube BibleKingdom dan 1 channel gereja online Gereja Kerajaan. Secara pribadi kami memiliki akar yang tertanam dengan gereja berbagai ukuran seperti Gereja Kristen Filadelfia Indonesia (GKFI berpusat di Medan) sekitar 300 anggota jemaat, Gereja Mawar Sharon (GMS berpusat di Surabaya) sekitar 50.000 anggota jemaat, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI Jawa Barat berpusat di Jakarta) sekitar 300.000 anggota jemaat. Kami juga menjalin komunikasi dengan sekitar 200 Sinode di Indonesia dan berbagai Gereja dan Ministry secara Internasional.  

Adalah menarik bahwa ratusan ribu orang di seluruh dunia telah menerima berkat rohani dan materi dari pelayanan LEMSAKTI baik langsung atau tidak langsung. Ini karena anugerah dan kasih karunia Tuhan yang pada tahun 2010 memberi penglihatan sekaligus memerintahkan Bp. Mahli Sembiring untuk melayani Tuhan di seputar kekuasaan. Berbagai pertemuan dan rapat dengar pendapat untuk kepentingan Masyarakat Kristen telah diselenggarakan oleh/dimotori LEMSAKTI mulai dari Kantor Bupati/Walikota hingga Gedung DPR/DPD di Senayan dan Lingkungan Kerja Kantor Kepresidenan.

Yesaya 55: 10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. 12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. 13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.