LEMSAKTI adalah lembaga yang dibentuk/disahkan oleh Pemerintah untuk mengelola sumbangan keagamaan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam perhitungan pajak penghasilan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

Pasal 9 ayat (1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:

g. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan ... , kecuali... sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;

Senin, 21 Oktober 2019

BAGAIMANA GEREJA DAPAT MENGHASILKAN BANYAK SUMBER PENDAPATAN


BAGAIMANA GEREJA DAPAT MENGHASILKAN BANYAK SUMBER PENDAPATAN

Persepuluhan dan persembahan tidak akan lagi cukup untuk menopang gereja yang sehat. Jemaat mencari alternatif seperti menciptakan bisnis nirlaba untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan.

Saat ini, sangat sedikit, kurang dari 5 persen gereja berpikir tentang masa depan, yaitu gangguan ekonomi yang akan datang. Salah satu masalah sosiologis yang dihadapi gereja-gereja yang akan mengarah pada penurunan persepuluhan dan persembahan, adalah populasi yang berubah dengan cepat.

Menjelang 2030-an, populasi akan menurun di Negara-negara maju karena lebih sedikit bayi yang dilahirkan. Dengan populasi yang menua, banyak pengunjung gereja yang lebih tua hari ini akan menua dari angkatan kerja. Mereka memiliki lebih sedikit uang untuk diberikan kepada gereja-gereja mereka. Sekitar 75 persen dari kekayaan dalam kekristenan saat ini dipegang oleh orang-orang yang berusia 65 tahun atau lebih. Penyebabnya sebagian besar gereja dibangun di atas model transaksional. Idenya adalah untuk mendapatkan lebih banyak puntung di kursi. Karena lebih banyak puntung di kursi, lebih banyak uang di piring. Hari-hari seperti itu segera menghilang.

Generasi Millenial dan Gen X dan mereka yang datang setelahnya tidak memikirkan uang.  Tidak memberikan uang seperti boomer, orang tua lakukan. Gen M dan X lebih rasional. Mengapa memberikan 10% penghasilan + 4x seminggu + 2x +++ ke gereja hanya untuk datang seminggu sekali mendengar dan menyaksikan acara selama 1,5 sd 2 jam? Bukankah khotbah dan pengajaran Alkitab yang lebih hebat tersedia di Media Sosial dengan biaya gratis? Banyak acara keagamaan bisa diikuti dari tempat tidur, bahkan tidak perlu report membersihkan dan make up diri. Semuanya dapat diperoleh dengan gratis. Tidak perlu buru-buru hingga tidak kebagian tempat parkir. Bukankah gereja online sudah tersedia setiap saat 24/7? Bukankah pelayanan pernikahan, penguburan, doa, pelayatan, konseling dan lain-lain yang selama ini disediakan oleh gereja sekarang dapat dipesan dengan cepat melalui aplikasi online? Untuk apa datang ke gedung gereja? Saya tidak mau dibodohi oleh perasaan saya dan iman yang tidak pernah terbukti seperti yang diajarkan gereja selama ini. Hai gereja, sadarlah, dan bersiaplah dengan gangguan zaman.

Masalah lain adalah munculnya kecerdasan buatan yang mengambil pekerjaan dari orang-orang. Artificial Intelligence (AI) , kecerdasan buatan, pada tahun 2030, akan mengambil 12 hingga 22 persen pekerjaan di dunia dalam 12 tahun ke depan. Itu statistik Universitas Oxford.

Contoh pendeta dari sebuah gereja di Baltimore, Maryland, kehilangan $100,000 semalam ketika perusahaan yang berbasis di Baltimore, Under Armour, memecat 400 orang. Karena itu, gaji pendeta dan anggaran gereja berkurang dan sejumlah program gereja dipotong. Bukannya 400 orang itu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan atau sumber penghasilan lain, tetapi masalahnya adalah seberapa cepat itu terjadi.

Secara eksponensial lebih banyak keluarga di Negara Maju saat ini bergantung pada dua atau lebih aliran pendapatan daripada beberapa dekade lalu. Gereja harus mencari cara untuk menghasilkan berbagai sumber pendapatan. Gereja Negara Maju di abad ke-20 hidup seolah-olah dari satu gaji - persepuluhan dan persembahan – untuk membiayai semuanya. Kita harus mengganggu cara kita berpikir tentang apa yang kita branding.

Di Mosaic Church, mereka memiliki anggaran tahunan sekitar $1,2 juta. Hanya 70 persen dari anggaran itu berasal dari persepuluhan dan persembahan sedangkan sisanya dihasilkan melalui "ekonomi pintar." Gereja-gereja "mengganggu" harus berdiri dengan tiga kaki: keadilan spiritual, keuangan dan sosial. Namun, banyak gereja saat ini hanya berdiri di atas kaki spiritual. Sayangnya spiritualnyapun tidak berdaya, kebanyakan omong kosong. Orang yang setiap minggu diberi “omongan (baca: khotbah)” hasilnya sama saja: dahulu (anak), sekarang (dewasa), dan selamanya (almarhum). Tidak ada bedanya orang Kristen dengan penyembah berhala. Hanya orang bodoh yang mau memberi kepada gereja seperti itu.

Gereja perlu bekerja untuk mengakhiri segregasi di gereja dan menyelesaikan masalah keadilan yang berdampak pada komunitas lokal mereka sendiri. Selain itu, gereja perlu menjadi inovatif dalam hal menghasilkan pendapatan. Walaupun gereja Anda kaya, tetapi anggota jemaat Anda mungkin banyak yang perlu kemapanan dan kematangan sumber penghasilan. Mereka butuh dukungan dari anggota lain, tetapi tidak memiliki akses, meminta bantuan gereja mereka segan. Dalam hal ini gereja yang harus proaktif.

Kaki kedua adalah bagaimana mengintegrasikan. Kita perlu mengintegrasikan saksi yang mengganggu dalam komunitas lokal kita untuk memajukan keadilan sosial, belas kasih dan pemberdayaan masyarakat dengan menciptakan satu payung nirlaba. Ini juga berdarah (mengambil sumber daya) ke ekonomi dan mengapa Anda melakukan ini.

Mulai organisasi nirlaba yang terpisah. Pikirkan ini sebagai dua saudari yang tinggal di rumah yang sama yang berbagi sumber daya, membagi biaya, saling silang. Anda memindahkan kerja belas kasih dan keadilan Anda dari bawah anggaran gereja ke dalam anggaran organisasi nirlaba. Anda tidak dapat mengukur jika itu di bawah anggaran gereja. Ketika pekerjaan belas kasih dan keadilan Anda berada di bawah sisi keadilan sosial Anda, gereja-gereja lain akan mengirimi Anda uang. Apakah Anda tahu bahwa Gereja tidak menulis cek ke gereja lain. Tetapi jika Anda mengatakan hei, "Saya punya program distribusi makanan yang merupakan bagian dari Anggur dan Kawasan Kumuh Perkotaan," mereka akan mengirimi Anda uang mereka. Mereka akan mengirimi Anda orang-orang sebagai sukarelawan. Ini juga memenuhi syarat untuk hibah lokal, Pemerintah Kota/Provinsi dan Pusat. Jadi Anda bisa mendorong wakil Anda di DPR/D untuk mengupayakan anggaran itu menjadi nyata setiap tahun. Mengapa Anda membiarkan uang jemaat yang dibayar melalui berbagai pajak masuk ke kas Negara kemudian mengucur keluar melalui anggaran ke sektor lain yang tidak mendukung tugas pelayanan Gereja? Mengapa gereja begitu ‘dungu’ (meminjam istilah Rocky Gerung), sehingga mencari aman di dalam gedung gereja? Padahal ada Negara yang bertanggung jawab untuk itu. Negara perlu diberdayakan.

Sebagai contoh: beberapa kali terjadi bencana alam (banjir, gempa, gunung meletus, tsunami, dll) yang memporakporandakan beberapa wilayah di Indonesia (misalnya). Manakah yang gereja pilih:
1.      Mengumpulkan uang dari jemaat kemudian menyerahkannya ke korban langsung (ini tidak mungkin karena pasti ada pihak tertentu di sana yang menerima, apakah korlap, dll).
2.      Berkoordinasi dengan semua gereja dan mendorong pemerintah mengambil tindakan nyata. Terus melanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat, menilai kondisi rohani mereka, dan membuat pemberdayaan kehidupan (rohani) sampai mereka menjadi sumber pemberdayaan berikutnya.

Jelas gereja memilih nomor 1 dan hasilnya hanya berupa laporan telah diserahkan sejumlah bantuan sebesar Rp…. Ini umumnya menjadi kesia-siaan dan merusak mental masyarakat. Gereja berpikir dia sudah memberkati, tetapi sebenarnya menanam dosa. Mengapa? Penerima itu biasanya korup dan menimbulkan sikap seolah gereja berkewajiban membantu dengan menempatkan dirinya sebagai korban yang patut dibantu. Seharusnya mereka dididik bila perlu “dipaksa” untuk cepat berdaya: mandiri dengan modal dasar bantuan dari gereja. Memang tidak mudah. Tapi pasti ada orang anggota jemaat yang siap untuk itu. Yang penting hasilnya akan manis dan berbuah kembali yang manis.

Contoh: ketika Gunung Sinabung meletus (erupsi) di Tanah Karo, Sumatera Utara, awalnya berduyun-duyun orang memberikan bantuan khususnya sembako dan tenda. Untuk keadaan darurat itu tindakan yang terpuji, saling membantu. Tetapi, ternyata erupsi berlangsung bertahun-tahun. Tentu saja bantuan dan sumbangan berkurang, bahkan berhenti di titik tertentu. Sementara korban harus meninggalkan kampung halamannya karena sudah porak poranda dan berbahaya untuk dihuni kembali. Mereka ditampung di hunian sementara (berupa tenda), kemudian meningkat beberapa yang beruntung ke hunian tetap. Ada yang pergi pindah ke daerah lain karena memiliki rumah lain atau tersedia di sanak kaluarga.  Bahkan ada yang pergi ke kota dan melakukan apa saja (termasuk menjajakan diri di Café) supaya dapat bertahan hidup. Salah satu gereja yang besar di Jakarta berinisiatif mengumpulkan dana untuk memberdayakan masyarakat yang ditampung di hunian sementara. Dana gereja digunakan untuk menyewa lahan di tempat lain, kemudian dibeli sarana produksi, untuk kemudian diserahkan ke warga korban bencana. Selama masa budidaya dan belum panen, mereka dibekali dana untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hasilnya?

Ternyata setelah LEMSAKTI dan MUKI selidiki, tidak semua bantuan yang diserahkan itu mengalir sesuai tujuan awal. Bahkan Gereja dengan modal belas kasihan dan membantu sesama, tidak memberikan hasil apa-apa dengan program pemberdayaan tersebut. Semua dana jemaat untuk pemberdayaan ini jadi sia-sia, hangus begitu saja. Alasannya: Tim atau Panitia dan mitra tidak memiliki cukup informasi sehingga tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi. Ternyata seelah lahan diolah dan ditanami, ketika menunggu hasil yang diharapkan, lahan tersebut disiram oleh abu vulkanik yang panas sehingga menghanguskan semua tanaman. Tim Gereja terlalu semangat sehingga terburu-buru melakukan kegiatan tanpa konsultasi yang cukup dengan pihak berwenangan seperti BMKG dan BNPB serta pihak ahli dan berpengalaman lainnya.. Kombinasi dua hal: mental korup pengelola lapangan di kemah pengungsian dan faktor alam yang tidak diperhitungkan, gereja ini memutuskan untuk berhenti dan tidak lagi memberikan bantuan lanjutan. Tinggallah pengungsi yang telah menjadi korban bencana alam melanjutkan penderitaan mereka karena  menjadi korban mental korup dan korban kecerobohan manusia yang berusah membantu tetapi kurang berhikmat. Dana, tenaga, dan waktu berakhir dengan kekecewaan di semua pihak … semuanya kesia-siaan, kata Pengkhotbah.

Gereja akan lebih berdaya guna bila membuat gerakan yang mendorong Pemerintah tanggap cepat dan tuntas. Karena itu tugas mereka. Untuk apa orang-orang di Pemerintah itu dibayar kalau tidak bekerja? Gereja membantu pemerintah dengan aturan perundangan yang ada supaya berfungsi dengan efektif dan nyata berdaya guna. Jangan terhanyut kondisi darurat yang melestarikan tindakan darurat. Itu bukan hal baru. Itu sudah sering dan sudah lama terjadi dan akan terjadi lagi. Karena sudah berulang namanya kondisi normal, buka darurat lagi. Karena normal gereja sudah sewajarnya mempersiapkan diri sehingga tidak ada darurat lagi. Jangan terlalu egois dengan gereja sendiri, ajak gereja lain bersama-sama supaya dampaknya lebih signifikan. Bermitra (partnership) denga pihak luas dalam bentuk kehati-hatian akan memberikan dampak positif yang lebih signifikan dibandingkan bekerja sendiri. Memang butuh waktu. Makanya perlu persiapan dan antisipasi, jangan dadakan.

Kasus ini dapat dikembangkan ke tingkat lebih luas: menjaga lingkungan dari kerusakan akibat ulah manusia, menjaga perilaku warga taat aturan, mendorong warga berperilaku nilai-nilai Pancasila, menjaga pemerintah tegas dan taat juga menegakkan aturan. Membuat program mengurangi demonstrasi yang berujung pengrusakan menjadi pemuda dan mahasiswa kreatif di berbagai bidang, menjadi kebutuhan mendesak di kota-kota besar Indonesia. Gereja berhentilah diam saja. Berdoa saja tidak cukup, jangan serahkan urusan itu kepada Tuhan. Tuhan sudah menyerahkan urusan mengusahakan dan memelihara bumi ini kepada manusia sejak zaman Adam. Penugasan itu masih berlaku sampai selama-lamanya, sampai bumi baru turun dari surga. Jangan terlalu berharap Anda agar segera diangkat ke surga, itu masih lama. Syarat dan ketentuan masih banyak belum terpenuhi. Yang terpenting kita urus bumi ini sebagai bagian dari Kerajaan Surga, karena manusia dan bumi diciptakan untuk manusia.

Ini adalah “langkah cerdas secara ekonomi” dan memungkinkan gereja menunjukkan kepada dunia bahwa gereja tertarik dengan apa yang terjadi di komunitas tempat mereka tinggal. Gereja perlu memfokuskan dan memanfaatkan semua aset pada orang-orang yang layak untuk itu. Contohnya mendorong Kementerian/Dinas Sosial menjalankan program distribusi makanan melayani  orang setiap tahun dalam program mengubah status sosial mereka. Kecuali program lain seperti untuk anak-anak yang berisiko. Ini sifatnya khusus. Program nirlaba lain untuk bekerja dengan anak-anak yang bertambah tua dari sistem asuh. Mengapa provokator lebih berhasil memobilisasi anak sekolah dan mahasiswa dibandingkan dengan gereja? Hai gereja tunjukkan bahwa kamu memiliki kekuatan dan kekuasaan dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Dengan memindahkannya keluar dari bawah anggaran gereja, gereja berpotensi menerima lebih banyak dalam bentuk hibah setiap tahun. Jangan seperti aras gereja yang ada di DKI Jakarta, hanya diam menerima manis seperti yang sudah-sudah dan menyingkirkan atau menghalangi aktivis Kristen atau gereja lain untuk mendapatkan hibah (Ini kasus di awal 2010an). Yang benar seyogiyanya aras itu mengundang kerja sama semua orang Kriten dan gereja untuk semua berjuang bersama mendapatkan hibah yang lebih besar dan meningkat setiap tahun dengan menyuarakan melalui wakilnya di DPRD. Berhentilah sombong dan menganggap lembaga sendiri yang paling berhak. Semua orang punya hak yang sama, tergantung perjuangannya. Galanglah kerja sama dan tunjukkan kemampuan kita secara cerdas. Ini ekonomi cerdas karena Anda tidak akan mendapatkan hibah itu jika itu di bawah anggaran gereja Anda.  Ingat "keadilan dan ekonomi" adalah "penginjilan abad ke-21."

Ini tidak lagi membawa Billy Graham ke kotamu. Pria yang luar biasa, luar biasa, kita semua akan setuju. KKR tidak berhasil menambah petobat baru apalagi mendewasakan rohani. Mereka hanya ingin sembuh, merasa nyaman, setelah itu mereka lupa dan kembali seperti semula.  Tapi itu abad ke-20. ... Itu bukanlah bagaimana Anda memimpin orang kepada Kristus di abad ke-21. Anda tahu bagaimana Anda melakukannya? Keadilan dan ekonomi. Ekonomi itu urusan rumah tangga (oikumene). Ini adalah masa depan Gereja Negara Maju. Bukankah Indonesia sudah diambang pintu Negara maju?

Yesus tidak mengatakan biarkan aku mendengar kata-katamu. Dia berkata, biarkan mereka melihat perbuatan baikmu. Jika ada waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk melihat karya-karya bagus, sekaranglah saatnya. Bawalah Yesus bersamamu ke istana Negara bertemu Presiden dan semua Penyelenggara Negara, ke bioskop, ke mal, ke gedung pertunjukan, ke stadion, dan kemana saja yang penting keluar dari gedung gereja.

Agar sebuah gereja menjadi "mengganggu" dalam arti ekonomi, itu harus melakukan hal-hal seperti:
1.      repurposing properti,
2.      menciptakan pekerjaan,
3.      menghasilkan pendapatan pajak untuk masyarakat dan
4.      menempatkan talenta anggota gereja untuk digunakan dengan cara yang tepat untuk melanjutkan misi gereja.

Ada sebuah pertanyaan atau pernyataan: Bagaimana Anda sebagai seorang pendeta atau Majelis Jemaat, bagaimana gereja memanfaatkan asetnya? Aset itu adalah uang, orang dan bangunan untuk memberkati masyarakat. Bagaimana kita memanfaatkan aset kita untuk memberkati dan memajukan Kerajaan, memajukan kebaikan bersama, dan pada saat yang sama menghasilkan pendapatan berkelanjutan untuk mengisi kas gereja?

Memanfaatkan Orang, Uang, Dan Bangunan
Gereja perlu memaksimalkan properti yang mereka miliki. Contoh, Gereja Mosaic (sekarang terletak di bekas toko K-Mart) menghasilkan pendapatan dengan menyewakan sekitar setengah dari bangunan ke klub kebugaran sejak 2013. Klub kebugaran membayar sekitar $8.000 per bulan untuk 50.000 kaki persegi. Alasan di balik penyewaan bagian bangunan adalah untuk membantu mengimbangi $7.400 per bulan yang dibayar gereja atas hipoteknya. Karena sewa dengan pusat kebugaran, 20 pekerjaan dan sekitar $26.000 pendapatan pajak diciptakan untuk masyarakat setempat.

Cara lain untuk menghasilkan pendapatan adalah gereja memonetisasi layanan yang ada. Sebagian besar gereja membagikan kopi gratis pada hari Minggu untuk pengunjung gereja. Untuk Gereja Mosaic, kopi harganya sekitar $3.000 per tahun. Meskipun beberapa gereja mengeluarkan kendi sumbangan, mereka tidak pernah dibuat sepenuhnya utuh dengan kopi yang mereka layani. Artinya uang yang keluar lebih banyak dibandingkan persembahan masuk untuk kopi.

Untuk mengatasi masalah ini, Mosaic mulai menjual biskuit sosis yang dibungkus dengan aluminium foil yang dibeli di toko grosir di area kafenya. Upaya kewirausahaan tidak hanya mengimbangi biaya kopi tetapi menghasilkan pendapatan tambahan yang gereja berikan untuk beasiswa perkemahan musim panas kaum muda.

Mempertimbangkan sebagian besar gereja lebih kecil dari rata-rata toko K-Mart. Gereja-gereja kecil dapat melakukan hal-hal seperti menyewakan kantor atau ruang kelas yang tidak digunakan kepada organisasi di daerah mereka yang mencari pilihan sewa yang lebih murah.

Gereja-gereja juga dapat menghasilkan pendapatan dengan menyewakan gedung mereka untuk acara-acara seperti pernikahan atau ke gereja lain di daerah itu untuk beribadah pada Minggu malam.

Beberapa gereja mungkin mengizinkan gereja-gereja lain untuk menggunakan ruang ibadah mereka secara gratis karena mereka percaya itu menjadi bagian dari "pelayanan." Tetapi percayalah akan lebih bijaksana bagi gereja-gereja itu untuk mulai mengenakan biaya. Tetapi jika Anda terus melakukan itu, Anda mungkin tidak akan berada di sini dalam 10 tahun mendatang (bagi yang menyewa gedung atau perkantoran). Jadi isi mereka sesuatu. Anda tidak harus mendapatkan dolar tertinggi, tetapi dapatkan sesuatu. Gereja-gereja yang lebih besar, mungkin memiliki peralatan cetak yang dapat digunakan untuk menghasilkan uang.

Memulai Bisnis Nirlaba
Gereja dan organisasi nirlaba lainnya diizinkan secara hukum untuk memulai perusahaan nirlaba selama entitas nirlaba membayar bagian mereka dalam pajak. Selama laba dari perusahaan kembali untuk mendukung gereja atau organisasi nirlaba yang meluncurkannya.

Memulai entitas nirlaba dapat menjadi hal yang menakutkan bagi para klerus (bagi pendeta keluaran, pendeta kejadian biasanya datang dari kalangan bisnis). Para pendeta tidak perlu sepenuhnya memahami bagaimana mengoperasikan bisnis. Mereka dapat menempatkan tanggung jawab itu kepada orang awam di jemaat mereka dengan pengalaman menjalankan bisnis. Ini juga membuka peluang kerja bagi anggota jemaat.

Beberapa gereja juga membayar layanan kebersihan. Sebaliknya, gereja dapat menciptakan bisnis layanan kebersihan mereka sendiri dengan membayar karyawan. Membersihkan gedung gereja sendiri, juga mengambil kontrak untuk membersihkan bangunan lain di masyarakat. Kirim petugas kebersihan Anda ke komunitas. Mereka mendapat kontrak di tempat lain. Mereka membersihkan gereja Anda secara gratis.

Beberapa orang menghadapi masa keuangan yang sulit Karena hanya "bergantung pada Tuhan" atau "memiliki iman". Hal-hal mungkin berbalik, Allah memanggil gereja dan orang Kristen untuk menjadi pelayan yang baik dari apa yang diberikan kepada mereka. Bukankah Yesus menceritakan kisah seorang tuan, yang memberi satu orang lima talenta, dua ke yang lain, satu ke yang lain. Ketika dia kembali, apa yang Dia katakan? … Ini lima Anda dan saya beri Anda lima lagi. Yang kedua mengatakan ... Ini dua Anda dan saya membuat Anda dua lagi. Apa yang dikatakan tuannya? Pelayan yang baik dan setia. Orang itu [yang 1 talenta] duduk di atas asetnya, dan dia dibuang.

Bedakan antara bisnis sebagai dukungan pelayanan gereja dengan Bait Allah dijadikan sarang penyamun. Jauh bedanya, jangan terburu-buru memvonis, nanti Anda dibuang.

15 Ide Penghasilan untuk Gereja dan Kementerian/Pelayanan dan Organisasi Nirlaba
1.      Penerbitan Buku
2.      Hosting Acara Langsung
3.      Hosting Acara Virtual
4.      Pemasaran Afiliasi
5.      Sponsor Perusahaan
6.      Hibah
7.      Pemasaran terkait-Penyebab sebagai Layanan
8.      Menyewakan Fasilitas atau Aset
9.      Jasa
10.  Produk
11.  Diskon dan Potongan Pajak misalnya kerjasama dengan LEMSAKTI.
12.  Pemberian yang Direncanakan (Janji Iman)
13.  Program Mitra dan Hadiah Utama
14.  Sumbangan Offline dan Online
15.  Perangkat Lunak sebagai Layanan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar